Disqus for komunitas setia remaja tangerang

Anugerah tak pernah salah

“Ewgh…Ewwghhh…Ewwwgggghhhhh… Fhuahh…”
Segera kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum aku menyelam lagi. Kembali biru mengelilingiku. Kukayuh kedua tangan dan kakiku, menyeimbangkan, melawan tekanan hidrostatik yang langsung mencengkram seluruh tubuhku.  
“Ewgh…Ewwghhh…Ewwwgggghhhhh…” teriakku di dalam air. Sedetik kemudian aku muncul ke permukaan. Di tepi kolam, Sherlin memanggil untuk yang ketiga kalinya agar aku segera naik. Jarinya sekarang menunjuk-nunjuk jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Waktunya untuk pergi.

Aku segera berenang ke arah Sherlin. Lalu menyelimutkan tubuhku dengan jubah mandi ungu yang disodorkannya. Sejujurnya aku masih belum puas. Hasil yang ingin kucapai masih sangat jauh. Tapi yang namanya menumpang di kolam renang orang, ya beginilah. Waktunya
terbatas. Belum lagi kalau ada anggota keluarga Sherlin yang mau berenang. Aku memang agak malu untuk melakukannya di depan orang apalagi di tempat umum. Karena pasti bakal ditanya. Sedang apa? Kok begitu? Memangnya bisa? Belum lagi setelah bertanya, mereka tidak segera pergi dan malah asyik menontonku.
Ini semua kulakukan hanya demi sebuah huruf. Sebuah huruf yang akhir-akhir cenderung kubenci karena sering membuatku jadi mudah tersinggung. Huruf R.

Berawal dari kedatangan murid baru sekitar 2 minggu lalu Ferdion, pindahan dari kota Pekanbaru. Seorang pemuda berkulit putih, matanya tajam diteduhi sepasang alis tebal. Sifatnya ramah dan cukup menyenangkan menurutku, sebelum dia melakukan kesalahan fatal itu.
Ferdion segera duduk di bangku sebelahku begitu selesai memperkenalkan diri. Dia tampak begitu percaya diri seakan-akan dia bukan murid baru dan langsung menyapaku.
“Halo…”
“Halo juga…” balasku sambil tersenyum.
“Siapa namamu?”
“Septi Olivie, panggil Vie saja.”
Ferdion nyengir, memperlihat barisan gigi putihnya yang rapi. “Eh, sekarang sedang belajar apa?” tanyanya. Tangannya membuka tas ransel mengambil buku tulis.
“Bahasa Ingghwis.” Jawabku cepat.
“Eh, apa?”
“Bahasa …” aku menghentikan kalimatku, saat kulihat dia menatapku dengan pandangan terkejut dan berusaha menahan tawa. Aku tersadar dan langsung memperlihatkan sampul buku paketku kepadanya tanpa berkata apa-apa lagi. Kuhentikan mataku memandang ke arahnya, kuperlambat degup yang sempat mendebar kencang dan kupudarkan dengan paksa pesonanya yang sempat meronakan hatiku. Kecewa.
Bukan hal baru memang, kalau orang-orang suka mempermasalahkan, menjadikannya candaan atau bahkan mengejek kelemahanku yang satu ini. Sejak aku masih kecil hingga sekarang kelas dua SMA. Dan rasanya masih tetap sama, sakit. Meski dari luar aku selalu tampak tersenyum.

“Kamu serius?” Sherlin menatapku tak percaya, menutup mulutnya dengan tangan menahan kunyahan bakso yang hampir tersembur.
            Aku mengangguk. Menyeruput teh esku dengan tenang sambil memandang kerumunan siswa yang masih berebut pesanan di tengah kantin. Siang yang biasa, ramai dan riuh.
            “Kamu tahu apa arti yang kamu katakan barusan?”
            “Ya.” Aku mengangkat bahu. “Aku akan bisa bicaghwa dengan noghwmal, tanpa takut dipandang aneh oleh oghwang lain lagi.”
            Sherlin memandangku lama, kelihatan sedang memikirkan apa yang ingin diucapkannya. “Kenapa?” tanyanya hati-hati. “Setelah selama ini, kenapa kamu baru memikirkan hal itu sekarang? Apa karena si Ionion itu?”
            “Tentu saja bukan.” sanggahku cepat. “Bukan baghwu sekali ini saja aku berpikighw untuk melakukannya. Bagiku ini adalah caghwa pamungkas. Cara teghwakhir, setelah semua usaha yang aku lakukan. Mulai daghwi yang ilmiah sampai yang tidak masuk akal sama sekali.” nadaku agak meninggi.
            “Ya… iya… aku tahu.” Sherlin memegang tanganku, tersenyum menenangkanku. “Terus tanggapan ortu kamu gimana?”
            “Yah… meghweka ngga menentang sih. Cuma minta aku berpikighw baik-baik dulu sebelum melakukannya. Semua keputusan diseghwahkan padaku, karena kata mereka aku sudah cukup dewasa.”
            “Memangnya operasinya seperti apa sih?”
            “Aku juga belum tahu, tapi, nanti pamanku yang dokter akan mencari tahu detailnya terutama biayanya.”
            “Yah… kalau sudah mantap begini. Yang bisa kulakukan sekarang hanya mendukungmu, sobat.”
“Makasih, ya.” Kutatap Sherlin dengan sayang, sahabat masa kecilku yang tak pernah beranjak dari sisiku, baik di saat bahagia dan juga saat tersedihku. Aku bahkan sayang pada rambut tipisnya, mata sipitnya, pipi chubbynya dan bekas luka jatuh di kakinya. Meski Sherlin bilang itu adalah bagian-bagian yang paling dibencinya. Tak putus rasa syukurku mendapatkan sahabat seperti dia.  

Gangguan di wilayah mulut, biasanya disebabkan adanya kelainan pada organ-organ di mulut (langit-langit, lidah, bibir, rahang dan lain-lain). Misal bibir sumbing, langit-langitnya terlalu tinggi, lidah yang terlalu pendek, rahang yang terlalu lebar, terlalu sempit, atau memiliki bentuk yang tidak proporsional.
Kelainan fisiologis dapat diatasi, tergantung berat ringan penyebabnya. Umumnya bila penyebabnya termasuk kategori berat, maksudnya penyakit tak dapat disembuhkan atau kelainan organnya tak dapat dikoreksi, maka bisa menjadi cadel yang menetap. Namun bila tergolong ringan, maka cadelnya tidak menetap.
Memang ketidakmampuan mengucapkan huruf R dengan benar salah satunya bisa disebabkan karena kelainan anatomis lidah dan kelainan anatomis ini bisa diperbaiki dengan jalan operasi (frenotomy), tapi ini biasanya dilakukan pada saat bayi karena adanya kesulitan menghisap ASI (inipun setahu saya juga jarang dilakukan). Terus terang, saya belum mengetahui ada kasus cadel R yang operasi pada orang dewasa.
            Aku menutup buku penelitian yang kutemukan di rak barisan terdepan buku-buku kesehatan. Kulirik sekelilingku, hanya beberapa orang yang masih bertahan berada di pustaka daerah sesore ini. Mungkin mereka sama denganku dan Sherlin, mencari bahan yang hanya bisa di dapat di pustaka, alih-alih browser di internet.
            “Vie, aku udah selesai.” Sherlin memanggilku dari meja tempatnya menulis. “Yuk, kita pulang.”
            Aku menghampirinya, membantu mengangkat setengah dari buku-buku referensi tertumpuk di meja lalu mengembalikannya ke rak semula.
            Brug!
            “Aduh, maaf… ayo, kubantu.” Aku mengulurkan tangan pada seseorang yang tak sengaja kutabrak. Tangan mungilnya segera menyambutku.
            “Kamu ngga apa-apa?” sengaja kulambatkan bicaraku. Kadang bicaraku yang terlalu cepat sering membuat orang yang mendengarnya bingung. Gadis kecil bermata bulat itu tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum. Sesaat kemudian dia meletakkan ujung-ujung jarinya ke bibir dan menggerakkan ke depan. Seperti gerakan kissbye.
            “Hafsyah.” Bu Rahma, pengurus perpustakaan tiba-tiba muncul dan menyapa setelah sebelumnya meletakkan tangannya pelan di bahu gadis itu. Gadis itu menoleh padanya.
            “Ini kartu pustaka kakakmu. Sudah selesai.” Kata Bu Rahma sambil menyodorkan sebuah kartu. “Temui langsung kakakmu di toko sebelah, ya.”
            Hafsyah, gadis kecil itu kembali tersenyum dan sekali lagi melakukan gerakan menyerupaikissbye tadi sebelum kemudian pergi setelah melambai padaku. Rambut ikalnya menari-nari saat ia berlari ke luar. Bu Rahma yang menangkap sorot bingungku berkata. “Bahasa isyarat, artinya terima kasih.”
            “Jadi dia…” aku tak jadi meneruskan kalimatku. Ada yang terasa menusuk dalam dadaku. Kuremas kedua tanganku, mencoba mengalihkan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menghampiri. Gadis itu, bahkan usianya masih sangat muda.
            “Vie, sedang apa? Ayo, kita pergi.”
            Aku mengangguk dan bergegas mengembalikan buku-buku ke rak, ketika sebuah tas rajut kecil berwarna pink jatuh di kakiku.

            Bersama Sherlin, aku sekarang berdiri di depan sebuah rumah berpagar merah tua berdinding abu-abu. Rumah yang tampak begitu hijau dan sejuk karena halamannya yang tidak begitu luas di penuhi rimbun bunga yang tertata apik.
            “Benar, ya? Ini rumah yang kita cari?” Sherlin membaca sekali lagi kertas bertuliskan alamat yang tadinya ada di dalam tas rajut tersebut. Kelihatannya tas ini berisi tanda pengenal untuk memudahkan gadis kecil itu bila tersesat.

Aku memang bersikeras untuk langsung mengembalikan tas itu kepada pemiliknya secara langsung daripada menitipkannya di pustaka. Ada sesuatu yang membuatku ingin bertemu dengannya sekali lagi.
            “Kayaknya sih benar. Aku tekan belnya, ya” kataku sambil lalu menekan tombol yang terletak di sudut atas tembok.
Kami menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya pintu dibuka. Seraut wajah yang sangat kami kenal muncul di sana.
“Sherlin… Vie…”
“Ionion eh, Ferdi…” pekik Sherlin kaget, lalu memandangku yang tak tahu harus berkata apa.
“kalian cari siapa? Aku?”
“Eng.. bukan. Kita cari Hafsyah…”

Sherlin dan aku dipersilahkan masuk. Aku meraba kantung rajut kecil di dalam tas, memastikan benda itu masih aman di sana. Hafsyah keluar dari kamar dengan malu malu.  Aku melambaikan tanganku, dia tersenyum dan menuju ke arah kami.
“Ini aku kembalikan tas rajutmu yang sempat tertinggal di pustaka” kataku sambil mengulurkan tas rajut. Hafsyah mengangguk dan menerima tas rajutnya kembali. Kami terdiam, tidak tahu cara berkomunikasi dengan Hafsyah sedangkan Ferdi masuk ke dalam.
“Kok pada diem? Ini aku buatin minum.”
“Makasih ya. Hafsyah beneran adek kamu?” tanya Sherlin.
“Iya, ngga percaya? Padahal kata orang kami sangat mirip.” Ferdi terkekeh.

            Udara yang berhembus sepoi sepoi. Ombak pantai yang seolah menyambut para penantinya. Burung-burung pulang di angkasa. Pantai di saat senja memang indah. Kami,  aku, Sherlin, Ferdion dan Hafsyah bermain-main di sana. Saling berkejar-kejaran dan berfoto-foto.
            Tiba-tiba, duak! Bruugh! Aku mendengar suara terjatuh, kubalikkan badan untuk memastikan. Astagfirullah! Hafsyah jatuh.
            “Ferdi!! Sherlin!! Hafsyah jatuh..” Aku berteriak seraya terisak.
            “Hafsyah...”
            “Maaf, Ferdi karena aku adikmu jadi begini. Aku akan sangat menyesal kalau adikmu…”  
            “Alhamdulillah adikku ngga apa-apa, hanya pingsan.”
            “Apa katamu, pingsan kamu bilang baik-baik saja?” kata Sherlin dengan nada cemas. Aku yang disamping Sherlin juga merasa galau.
            “Seberapa berat masalah yang terjadi kita harus senantiasa bersyukur, agar nikmat yang diberikan-Nya bertambah. Ingat! Allah tak akan menzholimi hamba-Nya yang senantiasa berusaha dan bersyukur”
             Mata hafsyah perlahan membuka. Dalam keadaan yang masih baru sadar  dari pingsanya, dia masih sempat tersenyum. Aku segera memeluk dan mencium pipinya yang halus. Maafkan aku hafsyah.
            “Ehem, Hafsyah bakalan punya kakak ipar nih” celetuk sherlin yang membuat pipiku merah.
            “Bicaghwa apa sih lin ini.” Jawabku sambil memberi cubitan kecil ke lengannya.
            “Auw.. sakit tauk. Sep, perasaan waktu  kamu teriak manggil aku sama ferdion cadelmu hilang deh. Sekarang kok kembali lagi ya?”
            “Entahlah lin. Aku juga gaghwuk gaghwuk kepala. Enggak tau. Tapi apapun kelemahan yang kumiliki aku haghwus beghwsyukughw dan ikhlas.”
            “Gak mau operasi ngilangin cadel?”
            “Kagak. Enak’an gini, cadel justghwu buat aku teghwkenal disekolah. Hahaha..” kataku sambil mengajak sherlin pulang.
            “Feghw, Hafsyah, kami pulang dulu ya. Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumsalam, terimakasih sudah ngajak aku sama Hafsyah jalan-jalan” timpal Ferdion.

                                                                              ~***~