Bulan Juli… hmm… Bulan itu mengingatkanku kepadamu, Kawan… Aku harap engkau masih dapat mengingat pertemuan kita pertama kali di bulan itu… masihkah terngiang di benakmu saat aku menjabat tanganmu dan kita memulai perjalanan kita yang penuh liku. Duduklah bersamaku disini kawan, di atas tebing tinggi, di bawah mentari yang semakin genit memandikan raga kita. Aku tuliskan sebuah prasasti tentang kita.
Juli 2000
Aku berdiri menatap sebuah tebing jeruji yang semakin memuakkan hatiku, saat itu, aku bersembunyi dari pelarianku terhadap sebuah permasalahan kehidupan yang semakin lama menderaku. Aku berlari di saat hormon dalam tubuhku berteriak meminta sebuah kebebasan, ya.. engkau benar kawan, itu adalah masa perubahanku. Siklus yang selalu dialami oleh manusia pada umumnya. Di saat aku memanjat tebing curam itu, aku tidak meneruskan kembali, karena jiwaku masih ingin berdiri di kakinya. Aku berusaha melawannya, namun jiwaku
tetap menolaknya. Mulut ngarai itu telah menganga, dia siap menerkamku sepenuh hatinya. Saat itu, Engkau datang kawan. Engkau datang dengan mengulurkan sepasang tanganmu untuk menarikku. Engkau terus menarikku hingga aku dapat mendaki tebing itu. Aku ucapkan terima kasih padamu Kawan. Disana awal pertemuan kita, disana jejak langkah pertama kita mulai terukir di atas bumi nan permai ini.
tetap menolaknya. Mulut ngarai itu telah menganga, dia siap menerkamku sepenuh hatinya. Saat itu, Engkau datang kawan. Engkau datang dengan mengulurkan sepasang tanganmu untuk menarikku. Engkau terus menarikku hingga aku dapat mendaki tebing itu. Aku ucapkan terima kasih padamu Kawan. Disana awal pertemuan kita, disana jejak langkah pertama kita mulai terukir di atas bumi nan permai ini.
Juli 2001
Aku tidak dapat lagi menghitung jejak langkah kita, semuanya masih sama, sepadan dan tidak pernah tercerai, Kita meniup lilin kita di bulan itu, hahahaha.. ternyata kita berulang tahun di bulan ini, kita merayakan satu tahun persahabatan kita, Tahun yang penuh kebahagiaan, Tahun yang penuh kegembiraan.. engkau mengajariku banyak hal dalam bersikap, engkau mengajariku bijaksana dalam menghadapi semua hal, Engkau mengajariku untuk tersenyum menantang kehidupan. Engkau telah membuka belenggu semu dalam kehidupan. Aku ingat saat kita tengah berada di atas hamparan rumput nan hijau, diiringi desiran angin yang menggoda raga kita. Engkau tanyakan sebuah pertanyaan, “Jika kita tidak bersama lagi, apa yang akan kau lakukan?” aku menjawab, “Aku akan terus melangkah kawan.” Langkah semu? Atau langkah nyata yang akan kau tempuh?” tanyamu lagi. Aku terdiam sesaat, aku tidak tahu apa yang kau maksudkan, saat itu dengan lantang aku menjawab “langkah pasti. Langkah yang tidak mungkin terhapus oleh sebuah pertikaian.” Engkau hanya tersenyum mendengar celotehku.
Juli 2002
Aku bangunkan kawanku yang sedang tertidur pulas, Entah apa yang dia impikan saat itu. “Kawan, aku harus pergi.” ujarku kepadanya. Kawanku tersentak, lalu dia memegang pundakku dengan tangannya. “Mengapa kau pergi? Apa kau telah menemukan dirimu sendiri? Apa cahaya kebahagiaan sudah berada dihadapanmu?” Pertanyaan bertubi itu kau lontarkan kepadaku. Aku hanya tersenyum memandangmu sambil menganggukkan kepalaku. Walaupun Aku tidak berada disampingmu, aku tetap berjuang menghadapi kehidupan.. kawan.. Engkau terdiam, namun sorotan tajam matamu seakan menusuk kalbuku, sesaat kemudian engkau melepaskan tanganmu dari pundakku. Aku percaya padamu, Aku tahu engkau sudah memilih sebuah kehidupan.” ujarnya lembut. Sebuah lilin kembali aku nyalakan di atas kue ulang tahun. Kita meniup lilin bersama. Tanggal 16 juli itu, tanggal bersejarah untuk kita. Usiaku sekarang 17 tahun kawan, usiamu 22 tahun, dan usia persahabatan kita genap dua tahun. Aku menapak kedewasaan, Engkau menapak kebijaksanaan.
Juli 2003
Engkau datang ke kotaku, aku sangat bahagia ketika engkau mau melangkahkan kakimu ke istanaku, satu tahun kita tidak bertemu, kita dapat melepaskan rindu. “Kau masih seperti dulu.” ujar kawanku ketika menatap mataku, “hahaha… aku belum berubah kawan.” selaku. “Bagaimana kehidupanmu sekarang?” ujarmu menatapku. “Aku mulai dapat berdiri kawan, namun terkadang pendirianku masih selalu goyah oleh rayuan kehidupan.” ujarku. Berjalanlah ke depan, jangan engkau palingkan wajahmu. Percayakan kepada hati nuranimu untuk melangkah.” Sebab hati nurani itulah yang menuntun kepada kebaikan, dan peka terhadap ketimpangan.” Kata-kata itu terlontar begitu manis dari mulutmu. Dan Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku tahu kawan, engkau masih tetap setia untuk membimbingku.
Juli 2004
Sebuah surat menghampiri Istanaku, Aku mengenal guratan tanganmu yang terukir di atas kertas itu. Kau kabarkan kepadaku tentang cita-cita yang akan kau capai. Kota Jogjakarta menjadi pilihan hidupmu untuk berkarya. Memang sejak dulu engkau ingin mempertaruhkan hidupmu disana, Kota yang engkau cintai, Aku masih ingat saat kita bersama mengamen untuk menyambung hidup kita disana, Aku masih ingat ketika ratusan orang yang mencibir setelah mendengar suara kita yang tidak pernah enak didengar, Namun semua menjadi kenangan manis untuk kita. Sebuah kenangan yang tidak terlupakan di saat kita bersama menghadapi sebuah persoalan kehidupan.
Juli 2005
Engkau dapat menghubungiku melalui telepon selulerku di malam 16 Juli itu, Engkau tanyakan kabarku tentang kehidupan. Aku hanya menjawab agar engkau tidak merisaukanku, sebab aku telah menemukan beberapa kawan yang menjadi sahabat terdekatku, mereka selalu mendorongku untuk tetap melangkah, Aku dapat rasakan kebahagiaanmu setelah mendengar ceritaku. Engkau katakan kalau saat ini engkau akan meniup sebuah lilin kembali, lalu aku pun segera menyiapkan sebuah lilin, Kita lalu meniup lilin itu bersama, walaupun hanya melalui sebuah telepon, namun aku masih merasakan ikatan erat persahabatan kita, kawan.
Juli 2006
Aku kehilangan kontak denganmu, sebab aku tidak lagi menempati istanaku yang dulu, Aku ingin memberi kabar kepadamu, Namun nomor selulermu sudah tidak terpakai lagi. Apakah itu akhir dari semuanya, saat itu aku masih terus mencoba mencarimu, aku layangkan sebuah surat kepadamu dan engkau masih membalas suratku. Kau katakan padaku kapan kita dapat bertemu kembali. Saat itu aku kabarkan kepadamu aku akan menemuimu, namun pada akhirnya, aku tidak sempat menuju ke kotamu… Maafkan aku kawan…
Juli 2007
Engkau datang ke kotaku di awal bulan itu, namun engkau tidak dapat menemuiku, Engkau hanya menitipkan salam kepadaku. Saat aku kembali ke istanaku, aku terkejut membaca pesan yang kau tuliskan pada sebuah memo. Saat itu aku berjanji padamu akan datang ke kotamu di tanggal 16 Juli. Namun ketika hari itu tiba, Aku tidak dapat menemuimu, karena masih banyak hal yang harus aku selesaikan di kotaku. Beberapa hari kemudian, seorang salah seorang kawan kita datang menemuiku. Dia mengabarkan tentang kepergianmu, Aku terduduk lemas mendengarnya, Aku tak percaya jika roda-roda vespa yang kau miliki mengantarkanmu menemui sang pencipta. Aku terpukul mendengarnya, masih teringat janjiku untuk menemuimu. Aku segera pergi ke kotamu, Namun hanya batu nisan yang mengukir namamulah yang menyambutku disana. “MUSLIM MUCHTAR, 16 JULI 1980 – 16 JULI 2007”
Juli 2008
Aku mendatangi pusaramu yang kering kerontang, tampaknya awan tidak pernah menangis selama ini. Apa kabar kawan…? Dimanakah dirimu sekarang? Aku nyalakan sebuah lilin di atas nisanmu, dan kubiarkan hembusan angin mencubit pijarnya. Aku yakin engkau telah meniupnya bersama desahan bayu. Di bulan ini juga, aku mendapat kabar kalau salah seorang sahabatku mengalami kecelakaan, namun untunglah dirinya tidak apa-apa. Aku tuliskan sebuah surat, aku kabarkan perjalanan hidupku yang penuh liku, aku ceritakan curahan hatiku yang selalu dilanda kesedihan dan kerinduan. Aku kubur surat itu di pusaramu, Aku harap engkau dapat membacanya, Aku berharap aku tidak mengganggu tidur panjangmu walau tidak mungkin dapat aku bangunkan.
Juli 2009
Aku nyalakan sebuah lilin di dalam kamarku, aku berharap arwahmu datang menghampiriku, sepanjang malam aku tunggu kehadiranmu, namun engkau tidak datang menemuiku. Aku biarkan titik api itu membakar raga lilin tersebut. Hingga aku tertidur dan engkau datang menemuiku dalam mimpiku. Aku melihatmu yang menatap tajam dengan penuh kemurkaan melihatku, Engkau mendorongku hingga terjatuh ketika aku merengek untuk pergi bersamamu. “Ada Apa kawan? Apakah engkau tidak mau lagi bersahabat denganku?” tanyaku kepadanya. Sahabatku menjawab dengan suara parau “Mengapa kau masih bertanya kepadaku? Mengapa kau tidak bertanya kepada nuranimu?” Aku terdiam dan menatap kepergiannya. “Maafkan aku Kawan…” ujarnya lagi sambil terus berlalu meninggalkanku.
JULI 2010
Aku tidak mengetahui lagi apa yang harus kulakukan, namun di tahun ini, aku kehilangan seorang nenek yang sangat aku sayangi, aku harapkan dia dapat menemuimu kawan, jika kau bertemu dengannya, aku ingin menitipkan salam rinduku kepadanya. kesedihan masih menderaku di bulan ini. kawan apa yang harus Aku lakukan untuk menghilangkan kepedihanku... Maukah engkau menemaniku..?
JULI 2011
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat ini, Aku berharap masih dapat menemuimu di bulan ini. Sebab aku tidak ingin lagi melihat kesedihan di bulan ini. Wahai kawan, biarkan aku menemuimu lagi, biarkan aku bersamamu lagi, agar aku dapat menghentikan kepedihanku. Aku ingin tertidur di bulan ini. Aku tidak ingin menatap sesuatu di bulan ini. Aku tidak ingin melihat semuanya di bulan ini. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi di bulan ini… wahai sahabatku… Tolong bangunkan aku ketika bulan Juli berakhir…
16 JULI…
Panji-panji berwarna putih, Aku kibarkan dalam hati…
Kau datang membawa api, Membakar kepedihan nurani
Lentera merah kau nyalakan, Kehidupan kau terjang…
Lilin kecil kuletakkan, sumbu mulai kuhidupkan
Kehidupan berliku, menghujam dalam kalbu
Kesedihan ditertawakan, kerinduan digemakan
Kemunafikan ditutupi, belenggu hati terbagi…
Sahabatku murka… mendengar kehidupan penuh tanya
Menampar keras wajahku… mencaci maki sesalku
Menghidupkan sang nurani…
hidup…! hidup…!! hidup…!!!
Perjalanan abadi… diteruskan lagi…
Melangkahlah! Melangkahlah!! Melangkahlah!!!
#NP : Rumah Pena


