Disqus for komunitas setia remaja tangerang

Bunga Edelweis

[MOMENT ROMANTIS]

Mengapa aku harus mengalami ini semua? Apa salahku Berbagai pikiran berkecamuk dalam benakku. Hari-hari indah yang telah kulewati terasa tidak ada artinya lagi.
Della yang merupakan sahabat dan orang yang paling ku cintai akan pergi meninggalkanku. Aku ingin menahannya, ingin memberitahu semuanya, namun aku tidak mampu. Yang kulakukan justru memberinya semangat dan dorongan agar dia pergi ke Amerika, mendapatkan pendidikan yang lebih baik dibanding di Indonesia. Namun, saat aku melakukan itu hatiku sakit. Aku tidak ingin
mengakuinya, namun itulah kenyataannya. Bunga Edelweis ---- bunga yang waktu aku berikan padanya dan selalu dibawa oleh Della kemanapun ia pergi ---- menjadi saksi atas keputusanku untuk membiarkannya pergi.

                                                                                ***

“Della, sini deh. Aku mau memberimu sesuatu,” ucapku misterius.

“Apa itu?” tanya Della penasaran.

“Sebelum itu, tutup mata kamu dulu.” Senyum usil yang sejak tadi kutahan, tidak dapat kubendung lagi. Akibatnya Della menjadi curiga padaku.

“Dick, jangan main-main lagi. Sekarang sudah malam. Sebentar lagi aku pasti dipanggil sama mamaku.”

“Aku janji tidak aka nada apa-apa.”

Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Della akhirnya menyetujuiku. Setelah ia menutup matanya. Aku membimbingnya ke arah taman. Kemudian, aku menjauhkan diri darinya dan memintanya untuk mengikuti instruksiku.

“Maju 3 langkah, hadap kanan, maju 5 langkah, serong kiri, maju 1 langkah,…” Begitulah instruksiku padanya. Della sempat mengomel dan tidak ingin melanjutkan permainan ini karena merasa dikerjai, namun aku diam saja dan tetap memberikan instruksi. Dengan perasaan sangat terpaksa, dia tetap mengikuti instruksiku. Mukanya ditekuk seperti nenek, sehingga membuatku ingin tertawa. Mati-matian aku berusaha menahan tawa , menjaga suaraku tetap normal.

“Stop.” Kataku akhirnya setelah memberikan instruksi yang begitu panjang. “Sekarang buka matamu.” Della pun membuka matanya.

“Ga ada apa-apa. Maksudmu apa sih?” Della mulai marah.

“Makanya, liat jangan cuma ke depan, ke bawah dong,” ucapku geli.

Della pun menundukkan wajahnya dan mulutnya ternganga sedikit. Benda itu berada di tangannya saat ini. Benda putih mungil yang terlihat rapuh, namun memiliki arti yang dalam.

“Kok kamu bisa dapat Bunga Edelweis? Darimana?” tanya Della senang bercampur penasaran.

“Mmmm… rahasia dong, yang penting kamu suka.” Ucapku tulus.

“Makasih ya udah bawain bunga favoritku. Bunga ini cantik. Baru kali ini aku melihat aslinya, bukan cuma gambar aja. Kamu pasti manjat gunung lagi ya?” Della yang memang tahu hobiku langsung dapat menebaknya. Aku hanya tertawa saja.

“Kamu tahu ga apa arti bunga ini sebenarnya?”

“Bunga abadi, bisa juga menjadi lambang cinta, ketulusan, keabadian dan pengorbanan. Benar kan?” Della merasa senang karena dapat menjawab pertanyaanku.

“Kamu benar. Aku harap kita dapat menjadi sahabat, selamanya.”

Entah mengapa hatiku sakit ketika mengucapkan kata “menjadi sahabat, selamanya”. Dalam hati, aku menginkan lebih daripada sahabat. Aku tahu itu. Namun aku takut ketika aku mengakui semuanya, persahabatanku dengannya hancur. Tadinya aku merasa selama dapat tetap dekat dengannya itu sudah cukup. Sekarang aku baru sadar itu semua tidak cukup. Aku menginkannya menjadi milikku.

                                                                               ***

Matahari telah bangun dari peradabannya, memaksa kami yang masih tertidur lelap untuk ikut bangun. Aku yang biasanya tetap mengumpet dibalik selimut, tidak peduli pada sinarnya yang mengelus wajahku, hari ini menyambutnya dengan semangat. Kegugupanku membuatku bersemangat sampai tidak dapat tidur nyenyak. Itulah sebabnya aku langsung bangun begitu melihat matahari mulai muncul.

Telah kuputuskan untuk mengakui semua perasaanku pada Della hari ini. Entah darimana kudapatkan keberanianku yang sejak 3 tahun lalu tidak pernah muncul. Sepanjang pelajaran, aku hanya memikirkan apa yang akan kukatakan, bagaimana aku harus bersikap, dan sebagainya. Pikiran-pikiran ini membuatku terdiam selama di kelas dan seolah-olah menjadi murid teladan. Teman-temanku heran melihatku tidak banyak bicara hari ini. Hari yang panjang dan melelahkan ini akhirnya selesai. Aku langsung lari keluar kelas, begitu bel berbunyi. Teman-temanku sampai ternganga melihat kelakuan anehku.

Begitu sampai di atas motor, aku langsung menggasnya sekencang mungkin dan menunggu Della di depan rumahnya. Sebenarnya aku harus menunggu selama 1 jam lagi untuk menemui Della karena sekolahku memang keluar lebih cepat. Namun, aku ingin menenangkan diriku sendiri, maka aku terburu-buru seperti itu.

“Dick, kamu ngapain di sini?” tanya Della heran. Aku belum pernah datang ke rumahnya dengan seragam lengkap dan kusut seperti ini.

“Ada yang ingin aku bicarakan,” ucapku hampir berbisik. Dapat kurasakan mukaku merona. Cepat-cepat kutundukkan kepala agar ia tidak melihatnya.

“Aku juga.” Matanya menerawang ketika ia mengucapkan hal itu, membuatku mempunyai firasat buruk.

                                                                           ***
“Apa yang ingin kamu katakana, Dick?” tanya Della setelah berada di bangku taman dekat rumahnya.

“Kamu dulu aja deh Della. Tidak terlalu penting kok yang mau aku sampein.” Melihat raut wajahnya yang murung, membuatku mengurungkan niat untuk menyampaikan perasaanku padanya.

“Dick, besok aku berangkat ke Amerika,” ucapnya dengan kepala tertunduk. Ucapannya yang singkat itu membuatku terkejut. Rasa sedih, kecewa, dan kesal bercampur menjadi satu. Tidak ada satu kata pun yang dapat keluar dari mulutku. Mati-matian ku tahan semburan amarahku.

“Aku minta maaf baru ngasih tahu sekarang. Jujur saja aku baru tahu kemarin. Orang tuaku ingin memberi kejutan padaku. Sudah lama aku memang berharap untuk pergi ke sana. Entah mengapa aku ga rela pergi meninggalkan teman-temanku dan kamu.” Ucapannya yang terakhir membuatku senang, sekaligus bertanya-tanya.

“Kenapa kamu ga rela ninggalin aku?”

“Karena kamu adalah sahabatku yang paling baik. Kalau aku pergi, aku ga tahu bisa mendapatkan sahabat sebaik kamu di mana. Mungkin aku tidak akan pernah menemukannya lagi,” ucapnya sedih. Kata-katanya membuatku tersanjung sekaligus sedih. Harapanku pupus seketika. Baginya aku hany sahabatnya, tidak lebih. Sekarang aku memilih untuk tidak memberitahunya daripada aku harus mendengar kata-kata yang tidak ingin ku dengar.

“Selain itu, ada orang yang aku cintai.” Kalau tadi hatiku serasa dibelah dua, kali ini hatiku serasa dibom atom olehnya. Mataku mulai memanas. Cepat-cepat kukerjapkan mata untuk menghilangkan air yang hampir saja jatuh ke pipiku.

“Kalian sudah pacaran? Berapa lama? Siapa dia?” Kugertakan gigiku ketika mengucapkan kata itu. Amarah mulai menguasaiku. Kulihat Della menggelengkan kepalanya.

“Dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang teman lama. Dia tidak tahu bahwa aku menyukainya.” Lagi-lagi matanya menerawang. Kali ini Della juga menyunggingkan senyumnya, senyum penuh kepasrahan.

Kabar yang tidak menggembirakan ini membuatku lelah. Setelah Della membuat pengakuannya, aku langsung buru-buru pulang. Tidak ingin dia melihat air mataku yang saat ini sudah mulai menetes. Seluruh tenagaku serasa dikuras habis hari ini. Aku pun jatuh tertidur dan mempikannya pergi dari sisiku selamanya.

                                                                            ***

Tawa riangnya sudah tidak terdengar lagi. Wajahnya yang menenangkan hati tidak dapat kulihat lagi. Hari ini dia telah pergi untuk menggapai mimpinya menjadi seorang arsitektur terkenal. Saat ini aku berada di bandara, menatap ke arah kepergiannya setengah jam yang lalu. Semua orang yang mengantarnya pergi telah pulang. Tinggal aku yang masih berdiri di tempat yang sama dan menerawang ke bagian dalam bandara.

“Kamu harus ngabarin aku ya sampai di sana,” ucapku tersenyum.

“Tentu saja. Kamu juga harus balas emailku. Terima kasih buat dukunganmu, Dick. Aku akan selalu merindukanmu.” Matanya mulai berkaca-kaca. Kemudian kami berpelukkan untuk yang terakhir kalinya.

“Jangan nangis lagi. Kita kan masih bisa berhubungan. Sekali-sekali juga bisa ketemuan kalau kamu balik ke Indonesia,” ucapku memberi semangat.

“Dick, ada hadiah kecil buat kamu. Ini balasan hadiah Bunga Edelweis waktu itu,” ucapnya seraya menyerahkan kotak kecil berwarna biru muda yang terdapat pita berwarna biru tua di atasnya. “Dibukanya nanti setelah kamu nyampe rumah. Ok?”

“Terima kasih. Ok.”

Setelah salam perpisahan itu, dia pun masuk ke dalam bandara. Aku yakin saat ini dia sudah berada di atas pesawat. Lalu aku membuka kotak kecil itu. Ternyata isinya adalah kalung yang bandulnya berbentuk persegi panjang. Bandul itu dapat dibuka dan di dalamnya terdapat sebuah foto. Foto aku dan dia sebelum dia pergi. Kemudian ada secarik kertas di dalam kotak itu. Aku pun membukanya.Jangan lupa lihat emailmu!

Setelah melihat itu, aku kembali ke rumah dan segera membuka emailku. Della telah mengirim email itu saat di perjalanan menuju ke bandara.

Dear Dick,
Aku seharusnya mengatakan ini dari awal, namun aku tidak berani. Sekarang aku baru sadar bahwa aku harus mengatakannya agar aku dapat tenang selama di Amerika. Persahabatan kita yang sangat erat membuatku merasa biasa ketika berhadapan denganmu. Aku tidak pernah menyadari akan perasaan yang aku punya, sampai hari di taman ketika aku memberitahumu akan kepergianku. Saat itu aku sadar bahwa aku tidak dapat pergi darimu, sampai kapan pun Aku harap kamu mau menungguku Dick.
With Love,
Della

                Melihat email itu, senyum bahagia tidak dapat kuhilangkan sepanjang sisa hari itu. Hatiku yang hancur telah utuh kembali. Tiba-tiba aku mataku melihat ke arah Bunga Edelweis yang aku ambil di hari yang sama ketika aku mengambil bunga itu untuk Della. Aku menjadi sadar bahwa cinta itu memang butuh pengorbanan dan kepercayaan. Pengalaman ini adalah cobaan bagi kami, namun aku yakin aku dan Della dapat bersama lagi dan tidak akan terpisahkan. Kemudian aku menuliskan balasan email Della. Tidak lupa kulampirkan foto Bunga Edelweis dalam email itu.

Dear Della,
Aku kagum atas keberanianmu mengungkapkan semuanya padaku, membuatku merasa menjadi seorang pengecut. Hari itu, yang ingin kukatakan padamu adalah aku mencintaimu dan aku ingin berada disampingmu selamanya. Aku tidak ingin kita hanya menjadi sahabat, tetapi dapat menjadi sepasang kekasih. Namun, aku tidak berani menyampaikannya karena suasana saat itu kamu mengatakan kamu mencintai seseorang. Hatiku hancur saat itu. Namun, sekarang aku mengerti. Aku akan selalu menunggumu.
With Love,
Dick

                                                                          THE END