Disqus for komunitas setia remaja tangerang

Gagak Hitam

     Seekor gagak mendarat di puncak Mahameru. Tubuhnya yang hitam legam dengan tatapan matanya yang tajam memandang penduduk desa yang bermukim di sekitar gunung. Kematian. Ya, manusia menganggap gagak hitam itu petanda datangnya kematian. Gagak hitam memang sengaja mengabarkan berita duka. Ia meneruskan nenek moyangnya yang secara turun temurun melakukan pekerjaan tersebut secara sukarela. Untuk bisa menjalankan tugas sebagai gagak sejati, gagak hitam harus bersekolah di sekolah khusus gagak yang tersebar di seluruh dunia.
            Gagak hitam yang masih belia itu bernama Tom. Ia baru saja melewati beberapa pulau hanya untuk menikmati betapa indahnya Mahameru, karya Sang Pencipta yang begitu hebat. Ia sangat bersyukur Sang Pencipta masih menyayanginya hingga kini. Ia sering melewati rintangan dari satu pulau ke pulau lainnya, namun rintangan yang paling sulit adalah rintangan yang akan dihadapinya kali ini. Saat sang ayah meghilang dari tatapan matanya, sedangkan ibunya entah di mana.
            Sejak kecil Tom hanya mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Limpahan kasih sayang selalu diterima karena ia anak satu-
satunya. Ayahnya pun tak pernah pergi tanpa pamit. Namun ketika hari itu, ia mendapati dirinya seorang diri. Tak ada siapapun di sana, kecuali ia dan bayangannya sendiri. Dimulai saat itu, ia selalu bepergian sendiri, mengepakkan sayapnya sendiri, mencari makanan sendiri, dan terluka sendiri. Sungguh menyedihkan, namun ia mulai belajar untuk mandiri.
                                                                                    ***
            Siang yang tampak indah di Mahameru. Tom tampak bertengger di salah satu ranting pohon yang agak besar. Ia mengamati sawah dan perumahan penduduk di bawah sana. Ia begitu menikmati keindahan, meski hatinya selalu merasa pilu karena telah kehilangan ayah yang dicintainya. Kini ia mencari sang ibu, ia mencari dan terus mencari, sampai-sampai ia lelah untuk mengepakan sayapnya. Ia lelah dengan segala kesendirian ini.
            Tom pun akhirnya bertemu dengan ibunya di kala sang bulan datang menghampirinya dalam kebisuan. Tak disangka-sangka, ibunya menerima Tom dengan senang hati. Hal itu tersirat dari senyum yang dipancarkan sang ibu kala melihat Tom. Sudah sangat lama mereka terpisah. Dan di hari bahagia ini ibunya takkan menyia-nyiakan anak semata wayangnya lagi.
            “Ibu sudah mengatur semua, sekolahmu dan semua yang kamu perlukan…” ujar sang ibu dengan tatapan dingin.
            “Makasih…” jawab Tom pelan, entah mengapa ia merasa asing dengan sosok yang melahirkannya.
            “Jadilah anak yang baik!” seru sang ibu seraya meninggalkan Tom.
Tom menatap ibunya dengan pedih. Ibunya hanya tersenyum satu kali saat Tom pertama kali datang ke rumah mewah ini. Setelah itu, tak pernah ada lagi senyuman yang menghiasi wajah cantik ibunya. Ibunya malah bersikap sedingin es dan itu membuat hati Tom beku.
            Perceraian, kata itu yang pertama kali terlintas di kepalanya ketika dia memikirkan tentang kedua orangtuanya. Sejak kecil orang tua Tom sudah berpisah, ia diasuh oleh ayahnya sampai sebesar ini. Sejak saat itu ia tak pernah di pertemukan dengan sang ibu. Tapi sang ayah pergi entah kemana, beliau hanya meninggalkan secarik kertas bertuliskan alamat sang ibu di atas tempat tidur Tom.
                                                                                    ***
            Pagi yang mendung, Tom menarik langkahnya menuju ruang kelas barunya. Saat Tom memasuki ruangan, semua mata tertuju padanya dan menatap dalam-dalam ke arah Tom. Sekarang Tom bersekolah di sekolah elit. Beda dengan sekolahnya yang dulu. Dahulu Tom hanya bersekolah di sekolah pinggiran yang kumuh.
            Tom mengedarkan matanya ke sekeliling. Semua terlihat mewah, gedungnya, tempat untuk bertenggernya, dan tentunya para murid yang borjuis. Tiba-tiba muncul rasa ragu di benak Tom. Apakah ia bisa beradaptasi di lingkungan yang baru? Apalagi di lingkungan yang mewah, yang beda jauh dari lingkungan sebelumnya.
            Tom duduk sendirian, ia tak berani menyapa murid lain karena merasa canggung. Ia tak tahu cara berkenalan dengan teman-teman baru sekelas mereka. Ya, ia hanya diam saja, berharap ada beberapa teman yang menyapanya duluan dan sudi bersahabat dengannya.
            Detik berganti menit, tak ada satupun yang menghampiri Tom. Wajah Tom tampak pucat pasi, ia hampir putus asa, takut tak bisa menyesuaikan diri. Lima menit kemudian bel tanda masuk berbunyi, lalu datanglah guru gagak yang galak.
            “Keluarkan buku kalian!” perintah sang guru dengan tegas, namanya adalah Bu Pearl, beliau adalah guru matematika yang terkenal killer. Tanpa babibu lagi, semua murid termasuk Tom langsung mengeluarkan buku masing-masing, lalu belajar dengan serius.
                                                                                    ***
            Tom diam di kantin yang di penuhi ratusan gagak yang lapar. Sampai detik ini Tom belum memiliki teman. “Apa gagak-gagak kaya memang seperti ini?” Tom membatin, pedih.
            “Kenapa nggak gabung sama yang lainnya?” tiba-tiba Tom dikejutkan oleh suara gagak betina yang sangat cantik. Tom memutar kepalanya, lalu menatap gasak cantik itu dengan senang.
            “Aku Tom.” Tom tersenyum.
            “Aku tidak kaya seperti mereka. Aku anak miskin. Tapi aku bangga, karena aku cerdas dan bisa dapat beasiswa di sekolah ini.” Gagak cantik itu melangkahkan kakinya dan pergi dari hadapan Tom. Tom heran melihat sikapnya yang misterius.
            “Hei tunggu!” Tom mengampiri gagak cantik itu.
            “Apa?” ucap gagak cantik itu sisnis.
            “Kamu mau kan jadi temanku?” pinta Tom.
            “Sudah aku bilang bila aku ini miskin!” gagak cantik itu sedikit meninggikan suaranya.
            “Apa hubungannya?” Tom heran.
            “Sudah satu tahun aku pindah ke sekolah ini, tapi nggak ada yang mau berteman sama aku…” keluh gagak cantik itu, pedih.
            “Satu tahun?” Tom terperangah, ia juga takut mengalami nasib yang sama seperti gagak cantik yang ada di depannya ini.
            “Karena aku miskn...!”
            “Aku juga mis...” Tom menghentikan ucapannya, mengingat sekarang ia sudah tinggal bersama ibunya yang kaya raya. “Kaya atau miskin sama aja, ayo kita berteman!” lanjut Tom.
            “Benarkah?” wajah gagak cantik itu langsung berseri-seri.
            “Iya, namamu siapa, cantik?” tanya Tom sedikit menggoda.
            “Claudia…” jawab gagak cantik itu malu-malu. Namun tak lama kemudian, tiba-tiba ia menangis.
            “Kamu kenapa?” Tom kaget melihat Claudia menangis.
            “Makasih udah mau jadi temanku,” ucap Claudia menahan haru.
            “Sama-sama, jangan nangis ya…” Tom menghapus air mata Claudia dengan tulus.
                                                                                    ***
            Tom pulang ke rumah dengan hati gembira, ia mengedarkan mata ke seluruh ruangan. Ibunya tak ada di rumah. Tom menunggu ibunya pulang, ia ingin menceritakan pengalaman pertamanya di sekolah baru.
            Satu jam, dua jam, ibunya tak kunjung pulang. Akhirnya Tom tertidur di ruang tamu.
            “Hah?” Tom terkejut ketika melihat jam dinding yang bisu, waktu menjukkan pukul dua malam. Tom langsung berlari ke kamar ibunya.
            “Ibu…” Tubuh Tom kaku ketika menyadari bahwa ibunya tak ada di kamarnya.
            Dalam hati Tom bertanya-tanya, “Apa ibu terlalu sibuk sehingga nggak pulang ke rumah?”
            Dengan lemas Tom menarik langkah menuju kamarnya yang hening, Tom merebahkan tubuhnya. Tom tak bisa memejamkan matanya lagi. Dalam benaknya hanya ada ibu, ibu dan ibu. Ia khawatir dan rindu pada ibunya.
                                                                                    ***
            “Udah beberapa hari ibuku nggak pulang…” ucap Tom sedih pada Claudia.
            “Mungkin beliau sibuk,” Cludia tersenyum sumringah.
            “Dia lebih mementingakan pekerjaannya daripada aku, beda dengan ayah...” mata Tom mulai berkaca-kaca.
            “Ibumu kerja untuk kamu, Tom,” ujar Claudia bijak.
            “Aku ingin seperi dulu…” desah Tom, “ada ayah yang perhatiaan, punya banyak teman…” Kini Tom mengenang masa lalunya yang indah, air matanya hampir meleleh. Cluadia menatapnya iba.
            “Tom, dalam keadaan apapun kamu harusnya bersyukur…” ucap Claudia berusaha menenangkan hati Tom. “Aku hidup serba kekurangan, tapi aku nggak pernah ngeluh!” Caludia memegang pundak Tom.
            “Kamu pasti bisa melewati semua!” ucap Claudia lagi.
            Tom tersenyum, kata-kata Claudia bagai charger untuknya, sekarang dia merasa lebih bersemangat untuk menerima keadaannya saat ini.
            “Makasih, Claudia…” ucap Tom senang. Ia merasa sangat beruntung mempunyai teman seperti Claudia.
            Setelah bel tanda pulang berbunyi, Tom melangkah gontai ke rumahnya yang megah namun sepi.
            Tom langsung berbaring di kamarnya. “Ah, lelah…” gumam Tom.
            “Tom!” tiba-tiba ibunya masuk dan mengagetkan Tom.
            “Ibu…” Tom bangkit dan mendekati ibunya.
            “Ibu bilang kamu harus jadi anak yang baik! Kamu paham kan?!” sang ibu meninggikan suaranya, membuat Tom kebingungan.
            “A... a... ada apa, Bu?” tanya Tom terbata.
            “Jauhi Claudia!”
            “Hah?” Tom tersentak.
            “Bergaul dengan orang kaya maka akan lebih kaya, bergaul dengan orang miskin maka akan ikut miskin!” kata Sang Ibu penuh amarah.
            “Ingat kata-kata ibu!” lalu ibu keluar dari kamar Tom.
            Tom tertunduk lemas di samping tempat tidurnya, hatinya perih. Bagaimana bisa ia menjauhi teman satu-satunya di sekolah dan bagaimana bisa ibunya berkata seperti itu. Pemikiran sang ibu belum bisa diterima Tom. Bagi Tom, miskin atau kaya sama saja. Tom tak dapat lagi membendung air matanya, ia lelah dengan kehidupan barunya, ia ingin hidup bersama ayahnya seperti dulu.
            “Aku harus bertemu ayah!” ucap Tom seraya menghapus air matanya.
            Tom bertekad untuk pergi dari penjara mewah ini, Tom akan mencari ayahnya dan hidup bahagia seperti dulu. Tom pergi dari rumah tanpa membawa apapun, ia kepakkan sayap rapuhnya hanya untuk bertemu sang ayah tercinta.
            Tom menyusuri ranting demi ranting, melewati hujan dan badai sendirian. Ia harus kembali berkelana. Kali ini bukan mencari sang ibu, tapi kembali pada ayahnya. “Cuma Ayah yang benar-benar sayang padaku…” ucapnya lirih.
            Tom bertengger di batang pohon besar. Sayapnya sudah sangat letih, ia bingung dan sedih. Ia sama sekali tak tahu dimana ayahnya berada. “Aku harus mencari kemana?” batin Tom.
            Berhari-hari Tom mencari. Tubuh Tom mulai kurus karena hanya makan seadaanya, ia hanya makan apa yang ia temukan selama di perjalanan.
                                                                                    ***
            “Hey, gagak tersesat,” tiba-tiba sekumpulan gagak mabuk mengelilinginya.
            “A... aku…” Tom ketakutan.
            “Tunggu, sepertinya aku kenal siapa bocah ini,” celetuk salah satu gagak bertopi lalu berjalan mendekati Tom sempoyongan.
            “A... aku…” lutut Tom bergetar, jantungnya berdetak lebih cepat.
            “Ah, ini anaknya si pengkhianat David!” gagak itu memukul kepala Tom dengan keras. Tom terkejut ketika gagak itu menyebut nama ayahnya.
            “Kalian tahu dimana ayahku?” kata Tom setengah panik.
            “Dia ada di… neraka!” jawab gagak yang lain lagi.
            “Dia mengkhianati kami!” tambah gagak bertopi, nada suarnya tampak kesal.
            “Ayahku dimana?” tanya Tom setengah berteriak pada gagak-gagak yang mengerumuninya itu. Semua gagak menertawakan Tom.
            Lalu gagak bertopi mendekatkan bibirnya ke telinga Tom dan berteriak “Dia sudah mati!hahaha...”
            “Hahahaha...” gagak lain tertawa puas.
            “Bohong!” Tom tertunduk lemas.
            “Kami sudah membunuhnya!” teriak gagak bertopi lagi.
            “Kalian bohong,kan?!” Tom membentak semua gagak yang mengerumuninya.
            “Kamu berani…” gagak bertopi marah dan memukul Tom hingga jatuh.
            “Sudahlah, kita tinggalkan bocah tak berguna ini…” kata salah satu gagak pada si gagak bertopi.
            “Biar dia menangisi hidupnya yang malang, hahaha,” gagak lain menimpali.
            Gagak-gagak mabuk itu terbang meninggalkan Tom yang kini terbujur kaku. Tom menangis sejadi-jadinya, hatinya hancur.
            “Kenapa hidupku begitu menyedihkan?” ucap Tom pelan, air matanya mengalir deras. Ia menangisi kenyataan dan kehidupannya yang malang.
                                                                                    ***
            “Hah?” Tom terkejut ketika mendapati dirinya telah berada di rumah sang ibu.
            Ibunya sudah berdiri di depannya, Tom menutup matanya ketakutan.
            “Kenapa kamu pergi, Tom? Kenapa...” bentak sang ibu.
            Tom tak bisa menjawab apa-apa, paruhnya bagai terkunci.
            “Jawab!” bentak ibunya lagi.
            “Karena aku ingin tinggal bersama ayah...” Tom memberanikan diri untuk bicara.
            “Dari dulu kamu tinggal bersama ayah, apa kamu nggak rindu sama ibu?” tiba-tiba pipi sang ibu basah. Tom terkejut melihat ibunya menangis. “Ibu bekerja keras demi kamu, Tom.”
            “Tapi…” perkataan Tom dipotong ibunya.
            “Ibu selalu berusaha memberi yang terbaik untukmu…” ucap sang ibu sambil menangis.
            Tom diam, ia tak tega melihat ibunya menangis.
            “Ibu sayang kamu, Tom…” Ibu memeluk Tom dengan hangat. “Walaupun cara ibu menyampaikan rasa sayang ibu sedikit berbeda…” sang ibu semakin erat memeluk Tom.
            Tom pun menangis. Kini ia sadar, ternyata ibunya sangat menyayanginya. Ia menyesal, selama ini ia salah menilai ibunya. Meskipun ibunya menunjukan sikap yang membuat hati Tom terluka, tapi itu semua adalah bukti kasih sayang sang ibu untuknya. Dan Tom harus menghargai itu.
            “Dan ibu salah, kaya atau miskin sama saja…” bisik sang ibu dekat sekali dengan telinganya. “Ibu hanya trauma, karena waktu itu ibu hidup miskin bersama ayahmu. Maafkan ibu, Tom...”
                                                                                    ***