Disqus for komunitas setia remaja tangerang

Story Malam Jum'at

  Oleh : Ocha Wijaya
“ Malam jumat ini kita pergi!”
Aku terperanjat kaget mendengar ucapan Dea dari seberang telepon.

“ Yakin lo, De?!”
“ Yes, I’m sure.”
“ tapi, De?!”
“ Nggak pake tapi-tapian. ‘cause malam itu yang membuat ritual kita semakin
Bertambah seru dan menegangkan, Ris!”
“ Okey, but emangnya nggak bisa jumat pagi atau sore, gitu?”
“ Udahlah Ris,pokoknya kita pergi malam jumat! Nggak pake pagi, siang,
atau sore. Jam tujuh teng, gue jemput lo. Okey!”
            Huh.. seperti biasanya. Keputusan Dea yang sudah bulat bak bulan purnama, pasti aku tidak akan mampu membuatnya menjadi bulan separuh. Atau, aku gagalkan dengan mendatangkan gerhana bulan sekalipun.
    Dan akhirnya, dengan berat hati aku mengiyakan ajakan Dea sembari menganggukkan kepala meski Dea tak melihatnya.
“ Iya, iya.. terserah lo deh, De!”
“ Bagus! Kamis malam, gue jemput lo!”
“ Iya…!”
“ Oya Ris, untuk ritual kali ini, lo nggak usah repot-repot nyiapin ubo rampe ya,
gue udah siapin semuanya. Pokoknya, kita tinggal jalan.”
“ Hah?! Oh.. ya, iya!”
“ Iya,iya melulu. Ya udah deh, siapin fisik and mental lo ya! Sampe ketemu
Malam jumat nanti. Dah Riska!”
Tut…tut..tut…
Telepon di seberang telah terputus. Aku masih terlongong mengingat ucapan-ucapan Dea  di telepon barusan.
“ Gila, malam jumat ini ? Hah…?! Oh MG..., nyokap kan tadi pagi bilang
Kalo malam jumat ini, malam jumat kliwon!”
Aku segera meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Setengah berlari aku pergi menuju ruang tamu. Segera kuraih almenak. Ku runtutkan jari telunjuk kanan ku di almenak jawa milik mamah.
Terlihat jelas di bawah tanggal, sebuah tulisan bertinta merah “ KLIWON”.
“ Tuh kan, bener! Malam jumat ini, malam jumat kliwon.”
Rasanya aku ingin sekali menelpon Dea dan membatalkan rencana ritual gilanya. Akan tetapi, seperti yang sudah aku katakan tadi, bahwa setiap keputusan purnama Dea, tidak akan pernah bisa berubah menjadi bulan separuh, atau pun gerhana.
Akhirnya aku pasrah menerima dan menjalani keputusan sepihak yang di buat Dea tersebut. Dea adalah sahabat kecilku. Aku terlalu sayang padanya, hingga tak pernah mampu menolak setiap keputusannya atau pun mengecewakannya.
Hari-hari menjelang jumat sakral, ku jalani dengan kecemasan. Aku pun kini mempunyai hobi baru, memperhatikan hari di almenak.
Hingga akhirnya, tibalah hari yang ku takutkan.
Sedari adzan maghrib, Dea sudah sibuk menelpon ke hapeku, guna mengingatkanku agar aku bersiap-siap. Ia pun memintaku agar aku mengenakan pakaian sepertinya, biar lebih sakral katanya.
Aku tiada ingin berpenampilan seperti Dea. Memakai baju kurung hitam,kaca mata bulat besar hitam, syal hitam melingkar di leher, dan celana jeans model leagging berwarna hitam. Seperti orang yang hendak melayat. Membuatku semakin ragu dan takut untuk menjalani ritual tersebut.
Aku tetap pada pendirianku. Memakai celana jeans biru, plus kaos oblong putih dipadu dengan bolero hitam.
Dea sempat marah padaku di telepon. Tapi, kali ini tak ku pedulikan ocehannya. Bahkan, aku berani mengancamnya, jika ia tetap memaksaku untuk berpakaian aneh sepertinya, maka aku tidak akan ikut dengannya. Dan, baru kali ini juga, Dea menyerah padaku.
Memang ritual tersebut bukan yang pertama ku jalani. Namun, pada dasarnya aku tidak menyukai ritual tersebut, membuatku paranoid. Karena aku, memang selalu takut pada hal-hal yang berbau mistis.
Setibanya di tempat ritual…
Dea membawaku masuk ke dalam tempat ritual melewati lorong panjang yang hanya di sinari oleh beberapa lampu kecil ukuran lima- sepuluh watt yang terpasang di langit-langit lorong. Aku tiada henti mengenggam lengan Dea erat.
Dea berhenti di sebuah pintu. Pintu tersebut terlihat kokoh, namun temaram lampu yang menyinarinya, membuatnya terlihat menyeramkan di mataku. Ku lihat banyak orang ikut berdiri di belakang kami menanti pintu tersebut di buka.
Tak lama, kami mendengar suara sebagai tanda pintu akan di buka. Serentak, kami mundur menjauh sedikit dari pintu.
Begitu pintu terbuka, segerombolan orang keluar dari pintu tersebut. Ku lihat beberapa wajah terlihat pucat pasi. Ada pula yang ketakutan dan berkata kapok melakukan ritual tersebut.
Setelah orang di dalam ruangan keluar semua, tiba-tiba muncul seorang wanita berseragam serba hitam berdiri di dekat pintu. Dea menarik lenganku, menghampiri wanita tersebut. Wanita tersebut kemudian mempersilahkan kami masuk.
Aku membututi Dea dengan keadaan tangan masih menggenggam lengan Dea semakin erat. Telapak tanganku basah, ketakutan.
“ De, kita keluar dulu, yuk!”
“ ngapain?!”
“ Gue terlalu tegang nih, takut ntar jantungan.”
 Sejenak, Dea memperhatikan kaeadaan sekitar kami.
“ Okey, lagian acaranya belum mulai kok. Eits, lima menit aja ya!”
Aku menganggukkan kepala.
“ De, sumpah gue takut banget nih.., kita pulang aja yuk!”
“ Ris…, udah deh, jangan mulai lagi!”
“ Bukan gitu De, tapi gue…”
“ Ah, udahlah, kita masuk lagi yuk!”
Dea menarik lenganku dan memaksaku masuk kedalam tempat ritual kembali.
Baru saja aku dan dea duduk, tiba-tiba ada seorang wanita berteriak ketakutan.
Aku ingin melihat siapa yang berteriak, namun Dea tiba-tiba bersuara.
“ Ah sial..! kita ketinggalan Ris. Gara-gara debat dulu sih sama lo!”
Aku benci mendengar Dea berkata demikian. Dan aku pun benci melakukan ritual ini. Karena setiap melakukan ritual ini, aku tak menemukan sosok sahabatku. Dia berubah menjadi egois, tanpa pernah memikirkan perasaanku.
Mendadak suasana berubah gelap karena lampu di matikan. Aku semakin ketakutan.
“ De, kita pulang aja, yuk!”
“ udah deh, Ris! Gue udah ketinggalan ritual ini sepuluh menit. Kalo setengah-
setengah nggak seru, Ris!”
 akhirnya aku memilih untuk diam. Suasana semakin bertambah menakutkan. Aku menggenggam lengan Dea, namun ia melepaskannya perlahan. Aku melirik kearah Dea. Dia berubah, benar-benar berubah.
Kulihat mulutnya menganga lebar, matanya melotot, sebentar-bentar ia berteriak, sebentar-bentar membekap mulutnya sendiri. Membuatku makin bertambah ketakutan.
Ku palingkan wajahku menatap lurus ke depan. Aku terperanjat kaget, kulihat pocong dengan penampilannya yang seram, menonjolkan wajahnya kearahku. Aku berteriak-teriak, dea pun terdengar berteriak-teriak, kemudian menyusul suara-suara perempuan lain berteriak-teriak ketakutan.
Entah suara-suara siapa. Yang jelas, saat ini aku hanya melihat Dea, Aku, dan pocong tersebut. Ya, pocong yang masih menyeringai ganas di depanku.
Tiba-tiba kulihat seorang gadis berlari-lari ketakutan lalu tersudut di pojokkan lemari. Wajahnya pucat pasi, nafasnya tersengal-sengal karena ketakutan.
Aku menutup mata erat,kemudian memicing-micingkan mata berusaha untuk membukanya.
Namun belum sempat aku membuka mata, ku dengar gadis itu berteriak-teriak.aku mengurungkan niat untuk membuka mata.
Kuraba lengan Dea.
“ De, gue takut!”
Dea tidak memperdulikan aku. Dia masih terdengar berteriak-teriak. Bahkan aku tak mampu membedakan teriakannya, apakah itu sebuah teriakan histeris, atau ketakutan.
Aku membuka mataku, menatap Dea. Matanya masih terlihat melotot, dan mulutnya ternganga.
“ Ris, ambilin ubo rampe di tas gue! Cepetan!”
Masih di sertai rasa takut, aku meraih tas Dea.  Lalu ku ambil ubo rampe yang telah di sediakan Dea dari dalam tas. Segera ku serahkan ubo rampe tersebut pada Dea. Dea pun segera meraihnya tanpa menoleh padaku.
“ Nih buat lo, biar lo tenang!”
Dea menyerahkan salah satu ubo rampe padaku. Aku mengambilnya. Dea menikmati ubo rampenya.
Aku pun mencoba menenangkan diri. Ku siapkan ubo rampe dari Dea. Berharap ini mampu membuatku rileks.
Namun baru saja aku ingin menikmati ubo rampe tersebut, aku mencium bau tak sedap.
Dan saat aku menjuruskan kembali pandanganku kedepan, ku lihat kuntilanak tengah menjulur-julurkan tangannya yang berhias kuku-kuku panjang dan hitam. Kepalanya menggeleng-geleng, rambutnya panjang terurai namun berantakkan.
Yang paling membuatku ketakutan, mukanya hancur, wajahnya pucat pasi, namun tatapannya menyeringai.
 Belum lagi kuntilanak itu pergi, datang lagi satu kuntilanak. Kemudian mereka mengelilingi gadis tersebut sambil melakukan gerakan tarian seperti tarian jawa.
Ku dengar bunyi sebuah gending jawa yang asing di telingaku menggema. Gadis tersebut  wajahnya berkeringat. Dan saat matanya melotot, salah satu kuntilanak tersebut merasuk kedalam raganya.
Mendadak gadis tersebut bertingkah aneh, kepalanya menggeleng-geleng tak jelas. Lensa hitam matanya berubah kelabu. Kemudian ia bangkit dari ketersudutannya.
Masih dengan mata berwarna kelabu, ia menari-nari seperti gerakan tarian pengiring reog Ponorogo.
Aku kasihan melihat gadis tersebut. Namun, aku tiada memiliki keberanian. Mungkin, andainya kedua lutut kakiku tak bergetar hebat dan lidahku kelu seperti saat ini, rasanya aku ingin berteriak kearah gadis tersebut agar ia berlari kearahku.
Aku pastikan akan membawanya pergi jauh dari tempat ini.
“ Dia korban dari ketamakan neneknya dulu.”
Tiba-tiba Dea bersuara. Meski terdengar parau, aku tetap mendengarkannya tanpa menoleh kearah Dea.
“ Neneknya pemuja kuntilanak.”  Dea melanjutkan ucapannya.
 “ Pemuja…, kun..ti..la..nak..?!”  Gumamku.
“ Ya, karena terpengaruh pada pikiran pendek keluarganya, ingin kaya,
tanpa berusaha.”
“ Ada cerita yang lebih tragis tentang gadis itu.”
“ Apa?!”
“ Dia sudah kehilangan cinta, dan adiknya, karena turut maenjadi tumbal dalam
Ritual yang dilakukan neneknya. Yang lebih tragis, gadis tersebut tiada pernah
Mencicipi satu sen pun harta kekayaan neneknya.”
Astaga! Rasa ibaku semakin menjadi pada gadis yang masih menari aneh didepan. Jiwanya masih dikuasai oleh salah satu kuntilanak yang tadi mengelilinginya.
Tanpa kusadari, aku ikut masuk dalam suasana tersebut. Aku melihat dengan jelas bagaimana para kuntilanak itu menghilang kemudian muncul kembali.
Aku pun melihat keberanian gadis yang tadi terlihat dikuasai oleh kuntilanak, tengah berlari mencari gunting, lalau memecahkan cermin-cermin.
Aku tak mengerti mengapa gadis tersebut melakukan hal yang demikian. Namun yang jelas para kuntilanak tersebut benar-benar pergi.
Aku merasa tenang. Akhirnya, gadis tersebut terbebas dari siksaan para kuntilanak tersebut. Aku menghampiri gadis tersebut. Namun, saat aku ingin menyapanya, tiba-tiba muncul kembali kuntilanak dari dalam cermin.
Aku berteriak-teriak memanggil gadis tersebut. Tapi sepertinya ia tak mendengar suaraku. Anehnya, samar-samar aku mendengar suara Dea memanggil-manggil namaku.
“ Ris.., Ris.., bangun, ritualnya udah selesai!”
Aku melihat Dea ada didepanku. Aku segera meraih badannya dan memeluknya erat.
“ Lo, baik-baik aja kan, Ris?”
“ Gue takut, De.”
“ Ya, gue tau. Ya udah kita pulang,yuk!”
“ He-eh…” Aku menganggukan kepala.
“ Ris, sebelum pulang ke toilet bentar ya. Gue pengen pepsi.”
Aku mengangguk lagi.
Lampu kembali menyala. Dea segera melangkah keluar ruangan. Aku membututinya. Terlihat para peserta ritual mulai sibuk membenahi sisa ubo rampe yang mereka bawa.
Saat aku dan Dea belok kearah toilet, para peserta terlihat bergerombol keluar dari ruangan.
Setibanya di toilet, Dea segera masuk ke salah satu kamar mandi. Aku menunggunya di depan wastafel panjang. Tiba-tiba aku pun merasa ingin pepsi. Setengah berlari aku masuk ke kamar mandi disebelah kamar mandi yang Dea masuki.
Setelah selesai pepsi, aku kembali ke wastafel. Terlihat di cermin wastafel rambutku berantakan. Segera ku ambil sisir dari dalam tas, lalu mulai merapikan rambutku.
“ Duuum…gubrak..!!”
“ Suara apa, itu?!” Gumamku dalam hati.
Aku berhenti menyisir rambut, lalu mulai mencari sumber suara.
“ De..! Dea…! De..! Dea..!”
Aku memanggil-manggil Dea. Namun tak ada sedikit pun tanda-tanda Dea menjawab.
“ De, batre lo lowbate, ya? Kok, nggak dijawab, sih?” Aku setengah berteriak.
Segera kuhampiri pintu kamar mandi yang dimasuki oleh Dea. Aku mengetuk-ngetuk pintu tersebut dan memanggil-manggil Dea, namun tak ada jawaban.
Akhirnya, aku memutar knock pintu. Pintu terbuka, namun.. Dea tidak ada.
Aku panik, cemas, ketakutan.
Dan saat aku tak mampu menguasai perasaanku, tiba-tiba aku merasakan seseorang muncul di belakangku. Aku melirikan mataku kesamping, sekilas terlihat bayangan serba hitam.
Bulu kudukku meremang.
“ Ya Tuhan.., lindungi aku dari hal-hal yang tak kuingikan.”
“ Woy.. ngapain lo bengong disitu, Ris?!”
“ Iiiih.., Dea..a…! Gue fikir lo, hantu!”
“ Ha…ha..ha..! parno lo. Tadi kenapa tidur pas nonton?”
“ Nggak tau, ketiduran kali. Eh. Tapi filmnya serem abis , bu!”
“ Wah.. itu sih belum seberapa. Besok kita nonton yang lebih seru.”
“ Nggak mau! Malam ini aja, belum tentu gue bisa tidur.”
Aku dan Dea melangkah keluar dari toilet.
“ Oya, kenapa ubo rampe yang gue buat nggak lo makan?!”
Aku menatap Dea lekat.
“ Lo sengaja ya? Bikinin gue popcorn rasa duren? Gue kan anti duren. Makanya
Nggak gue makan.”
Dea menepuk jidatnya. “ Oh iya, sory gue lupa.”
“  Huh.. dah deh lain kali kalo ada ritual nonton bareng lagi, gue yang siapin
Ubo rampenya, ya?”
“ Oke. Berarti.., kita nonton horror lagi, dong?”
Aku menjitak kepala Dea. “ Nggak!  kali ini gue yang tentuin filmnya.”
“ Elo?! Wah nggak yakin gue!”
“ Dea…a..!”
“ Riska..a..a..!”
Kami tertawa bersama. Langit sudah menghitam. Suara jangkrik bernyanyi merdu. Dua sahabat melangkah bersama menuju tempat parkir mobil. Aku tak lagi merasa takut pada malam sacral ini.
Dea menstarter mobilnya, lalu melangkah keluar parkir. Kami berhenti sebentar di loket parkir untuk menyerahkan karcis, Namun penjaga parkir tiada melayani kami sebagaimana mestinya.
Dea sewot. Lalu ia turun dari mobilnya. Saat ia hendak melangkah kearah loket, tiba-tiba terdengar suara laki-laki berteriak kepadanya.
“ Mba..! Mba..!”
Tiba-tiba Dea masuk kedalam mobil dengan bergidik. Ia tergesa-gesa memasang seatbelt kemudian meluncurkan mobilnya agak kencang.
“ Lo kenapa. De?!”
“ Tadi, waktu gue mau nyamperin penjaga parkir, ada yang manggil gue, dia  minta maaf karena buat kita nunggu lama. Cause’ dia abis dari kamar mandi, kebelet sih katanya, terus…, nggak ada orang yang bisa gantiin dia, karena hari ini temannya ijin ”
“ Oh MG… jadi, penjaga parkir yang di pos tadi, siapa, De?”
Dea menggelengkan kepalanya. “ I don’t know…!”
Baru saja ketakutanku pada malam jum’at kliwon melumer, eh… datang lagi sebuah peristiwa yang membuatku bergidik. 
Meski jangkrik bernyanyi menemani perjalananku dengan Dea menuju rumah tetap saja ketakutanku belunlah lenyap.
“ Tuhan…. Lindungi aku dari kengerian malam jun’at kliwonMu ini…!”